Menu
×

Category Archives: Wisata Budaya

Candi Prambanan, Legenda Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang

Candi Prambanan merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia, lokasinya berada di Jl. Raya Jogja-Solo Km. 16, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Berjarak kurang lebih 17 km dari pusat Kota Yogyakarta. Bagi Anda yang menggunakan transportasi trans Jogja tempat ini berada 0.4 km dari Halte Prambanan. Candi ini mempunyai legenda sebuah kisah cinta yang tidak berbalas antara Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang. Menurut cerita candi-candi yang ada merupakan permintaan dari Roro Jonggrang kepada Bandung Bondowoso untuk membuat 1000 candi dalam semalam, namun Roro Jonggrang menggagalkan dan membuat Bandung Bondowoso murka dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi candi yang ke-1000.

Pembangunan candi tertinggi di Yogyakarta ini diperkirakan antara abad ke-9 hingga abad ke-10. 3 candi merupakan yang terbesar dan sebagai candi utama. 3 candi utama tersebut adalah Candi Wisnu di sisi utara, Candi Siwa di tengah, dan Candi Brahma di sebelah selatan. Semua candi utama menghadap ke satu arah yakni timur. Masing-masing candi utama memiliki pendamping yang disebut candi wahana. Candi wahana Garuda untuk Wisnu, Candi Nandi untuk Siwa, dan Candi Angsa untuk Brahma. Di halaman pertama komplek Candi Prambanan juga terdapat 4 candi sudut, 4 candi kelir, dan 2 candi apit, sedangkan halaman lainnya terdapat candi sebanyak 224.

Candi yang terbesar dan tertinggi adalah Siwa dengan ketinggian 37 meter, lebih tinggi dari Borobudur. Bagian bawah atau alas candi berukuran 289 meter persegi. Candi Siwa memiliki relief kisah Ramayana. Dindingnya berhias kinari atau patung manusia bertubuh burung. Di sisi selatannya terdapat arca Agastya, arca Ganesha di sisi barat, dan arca Durga Mahisasuramardini di sebelah utara. Sedangkan Candi Brahma yang ada di komplek Candi Prambanan hanya memiliki tinggi 37 meter dan luas alas 20 meter persegi. Pahatan dindingnya terdapat relief kisah Ramayana yang merupakan lanjutan dari Candi Siwa, di dalamnya berisi arca Brahma. Candi Wisnu memiliki bagian kaki, badan, dan atap candi yang bertingkat hingga 5 tingkat.  Arca Wisnu juga berada di dalamnya, dindingnya dipahat sebuah relief kisah tentang reinkarnasi atau lahirnya kembali Dewa Wisnu dalam berbagai wujud.

Pengunjung disarankan untuk mengelilingi candi memutar searah dengan jarum jam sebagi bukti penghormatan dan kesopanan. Segala peraturan yang dibuat lebih baik Anda ikuti agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Wisatawan yang mengunjungi Candi Prambanan dapat berfoto tanpa merusak bagian bangunan candi. Komplek dalam candi ini telah masuk dalam situs warisan dunia UNESCO sejak tahun 1991. Oleh karena itu wajib bagi setiap wisatawan yang datang untuk mematuhi aturan dan juga menjaga keindahan komplek candi agar peninggalan bersejarah ini dapat tetap lestari.

Baca Sebelumnya : Berkeliling di Komplek Candi Ijo Sleman Yogyakarta

Berkeliling di Komplek Candi Ijo Sleman Yogyakarta

Candi Ijo merupakan objek wisata yang terletak di puncak bukit Ijo atau Gumuk Ijo, Desa Sambirejo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Berada di ketinggian 410 meter di atas permukaan laut membuat wisatawan yang ingin mengunjungi tempat ini harus melewati jalanan menanjak. Pastikan terlebih dahulu kendaraan dalam kondisi baik dan dikendarai oleh yang sudah ahli karena selain menanjak, jalanannya juga tidak terlalu tidak terlalu baik. Bangunan candi ini berada dekat dengan Candi Ratu Boko, namun cukup tersembunyi sehingga tidak begitu ramai pengunjung.

Tempat candi ini berdiri merupakan tempat tertinggi dibandingkan tempat candi lainnya yang ada di Yogyakarta dan termasuk dalam candi Hindu. Bangunan peninggalan ini diperkirakan dibangun sekitar abad ke-9.Dalam kompleks Candi Ijo terdapat 3 candi perwara yang berjejer dari utara ke selatan dan sama-sama menghadap ke candi utama yang terpisah sendiri di bagian timur dengan posisi paling tinggi.

Candi Ijo Sleman

Sumber gambar: Akun IG @afandiar_

Candi perwara yang paling selatan berisi padmasana. Padma bisa diartikan sebagai daun teratai, padmasana adalah tempat persembahyangan umat Hindu dan untuk menaruh sesaji yang bentuknya menyerupai daun teratai, disampingnya padmasana terdapat arca nandi/ sapi. Di dalam candi perwara yang berada di tengah terdapat lingga kecil. Candi perwara di sisi utara berisi sebuah homa atau lubang besar tempat membakar sesaji. Semua candi perwara tersebut menghadap ke arah timur dan merupakan bentuk penghormatan terhadap Hindu Trimurti yakni Wishnu, Siwa, Brahma.

Lokasi Candi Ijo menurut Google Map

Candi utama dari Candi Ijo berisikan lingga yoni yang berukuran besar. Candi utama menghadap ke arah barat dan diposisi yang paling tinggi. Bagi pengunjung yang ingin mengelilingi kompleks candi terdapat larangan mengelilingi candi berlawanan arah jarum jam. Disarankan untuk memutar searah dengan jarum jam sebagai bentuk menghargai dan menjaga sopan santun. Di sekitaran bangunan candi juga terdapat berbagai prasasti yang bertuliskan mantra. Selain menikmati bangunan candi pengunjung juga bisa menikmati pemandangan yang ada di sekitar komplek candi.

Meskipun namanya adalah perbukitan ijo tempat ini tidak terlalu hijau akan tetapi pemandangan di bawahnya yang bisa Anda lihat sangatlah indah. Persawahan yang berada di perbukitan terlihat hijau dengan bentuk miring. Bukit ijo berada di timur dan menjadi batas dari Bandara Adi Sutjipto sehingga pengunjung bisa sesekali melihat pesawat terbang rendah setelah take off dan pesawat yang akan melakukan proses landing. Inilah keunikan berwisata ke candi ini, karena Anda bisa melihat peradaban manusia jaman dahulu dan peradaban manusia di era modern dalam satu tempat. Bagi Anda yang tertarik untuk mengunjungi Candi Ijo bisa datang setiap hari antara pukul 07.30-16.00 WIB dengan tarif masuk seikhlasnya, cocok bagi wisatawan yang ingin objek wisata yang hemat.

Wisata Budaya Lainnya

Menengok Budaya Masa Lalu di Candi Mendut

Negara Indonesia memiliki beragam peninggalan sejarah yang tersebar di seluruh penjuru nusantara salah satunya berada di Yogyakarta. Berbagai candi yang merupakan bagian dari peninggalan sejarah bisa Anda temukan di berbagai daerah di Yogyakarta. Salah satu peninggalan yang menjadi bukti adanya masa kejayaan di masa lalu adalah Candi Mendut. Candi yang satu ini merupakan sisa peninggalan sejarah yang berada di Kabupaten Magelang. Sekalipun berada di Magelang namun tetap saja peninggalan tersebut dijuluki sebagai candi yang ada di Yogyakarta.

Jika Anda megnunjungi Candi Borobudur maka tidak ada salahnya juga untuk pergi ke Candi Mendut yang hanya berjarak 3 km dari Candi Borobudur. Sama halnya dengan bentuk candi pada umumnya, di Candi yang dibangun oleh Dinasti Syailendra ini berbentuk persegi empat dan dilengkapi dengan berbagai hiasan stupa berukuran kecil. Jika dilihat secara geografis, antara Candi Borobudur dan Mendut berada dalam satu garis lurus. Bahkan konon katanya peninggalan sejarah yang lebih dahulu dibuat adalah Mendut baru setelah itu disusul oleh Borobudur. Arah pintu masuk kedua candi tersebut juga saling berlawanan, pada Candi Borobudur arah pintu masuknya tepat berada lurus menghadap matahari terbit berbeda dengan Mendut yang arah pintu masuknya berada di barat.

Candi Mendut merupakan sebuah candi budha yang dibangun oleh Dinasti Syailendra yaitu Raja Indra. Peninggalan sejarah yang satu ini bisa Anda lihat dari prasasti Kayuwungan yang ditemukan di Karangtengah. Ketika berkunjung ke tempat wisata bersejarah ini maka Anda akan langsung disuguhkan oleh pemandangan bangunan bersejarah yang telah berdiri kokoh selama puluhan tahun. Ketika berjalan mengitari pelataran candi maka Anda akan menemukan berbagai macam relief yang menggambarkan tentang burung manyar, kura-kura, kepiting dan beberapa jenis hewan lainnya. Jika dilihat sekilas mungkin relief tersebut ditujukan untuk anak-anak karena terdapat beragam hewan namun ternyata dibalik gambar-gambar hewan tersebut terdapat makna tersirat yang merupakan pesan moral yang ditujukan oleh para pengunjung tempat wisata bersejarah tersebut.

Setelah puas berkeliling di pelataran candi, Anda bisa naik ke badan candi. Disana Anda bisa menemukan 8 relief bodhisattva dengan beragam sikap tangan yang ukurannya bisa melebihi relief yang ada di Candi Borobudur. Ketika Anda memasuki bilik candi maka akan tercium sangat jelas aroma hio yang bercampur dengan wewangian bunga.

Setelah seharian berkeliling menikmati keindahan peninggalan sejarah dari agama budha tersebut kini saatnya Anda pulang. Namun, sebelum pulang Anda bisa membeli souvenir yang berada di dekat pintu gerbang Candi Mendut. Di area tempat wisata ini juga terdapat Buddhist Monastery yang merupakan ritual meditasi dengan diiringi alunan musik. Jadi jangan lewatkan wisata bersejarah yang satu ini.

Baca lainnya: Wisata Menarik di Pemandian Kali Bening Magelang

3 years ago Museum , Wisata Budaya

Wisata Pendidikan dan Budaya: Sejarah Keraton Kasunanan Surakarta

Keraton merupakan tempat tinggal para raja serta dapat dijadikan sebagai tempat menjalankan  pemerintahan. Di Indonesia terdapat banyak keraton yang tersebar diberbagai daerah. Akan tetapi untuk saat ini hanya beberapa keraton yang masih menjalankan tradisi dan adat misalnya Keraton Kasunanan Surakarta. Geger Pecinan pada tahun 1743 membuat Susuhunan Pakubuwana II gerah dan akhirnya mendirikan keraton pengganti Keraton Kartasura menjadi Kasunanan Surakarta pada tahun 1744.

Ada beberapa kompleks keraton yang patut Anda kunjungi saat berada di Surakarta yaitu kompleks Alun-alun lor lan kidul (utara dan selatan), kompleks Sasana Sumewa, kompleks Siti Hinggil lor lan kidul (utara dan selatan), kompleks Kamandungan lor lan kidul (utara dan selatan), kompleks Sri Manganti, kompleks Kedaton, kompeks Kamagangan.

  1. Kompleks Alun-alun Lor (utara)

Alun-alun merupakan tempat untuk menyelenggarakan upacara-upacara kerajaan serta tempat bertemunya rakyat dengan rajanya. Terdapat dua pohon beringin di alun-alun yang bernama Dewadaru dan Jayadaru.  Setelah itu, apabila Anda melihat ke arah barat maka  akan terlihat kemegahan Masjid Agung Surakarta. Pendiri Keraton Surakarta juga mendirikan masjid resmi untuk kerajaan pada tahun 1750. Selain itu di sisi barat daya Alun-alun Lor terdapat gapura besar yaitu Gapura Batangan dan Gapura Klewer yang memiliki fungsi sebagai pintu keluar Alun-alun Lor.

  1. Kompleks Sasana Suwema dan Siti Hinggil

Sasana Sumewa merupakan bangunan utama terdepan di Keraton Kasunanan Surakarta yang berada disebelah selatan pohon Waringin Gung dan Binatur. Dahulu berfungsi sebagai tempat untuk upacara resmi kerajaan. Sedangkan Siti Hinggil adalah suatu kompleks di keraton yang dibangun khusus dengan tanah yang lebih tinggi dari yang lain.

  1. Kompleks Kedaton

Saat melintasi halaman Kedaton Anda akan melangkah diatas pasir hitam yang berasal dari pantai selatan. Halaman dihiasi dengan pohon sawo kecik yang berjumlah 76 batang dan patung-patung bergaya Eropa. Anda dapat mengambil foto dengan berbagai objek di tempat ini. Selain itu kompleks ini terdapat bangunan utama antara lain Sasana Sewaka, Bangsal Maligi, Sasana Handrawina, Ndalem Ageng Prabasuyasa, dan Panggung Sangga Buwana.

Wisata sejarah Keraton Kasunanan Surakarta lumayan terjangkau, untuk tiket masuknya ditarik dengan harga Rp 10.000,00 dan jika Anda membawa kamera harus membayar Rp 2.000,00. Sebaiknya Anda mengunjungi tidak di hari Jumat karena keraton ditutup untuk umum. Jika ingin berfoto dengan para penjaga Keraton Solo yang memakai pakaian khas dan menggunakan senjata, Anda hanya akan membayar Rp 10.000,00.

Museum Keraton Surakarta

sumber gambar: sabdalangit.wp.com

Semoga dengan sedikit ulasan tentang Keraton Kasunanan Surakarta dapat membantu Anda ketika akan mengunjungi keraton Solo. Selain itu Anda bisa mampir ke Pasar Klewer yang menyediakan batik-batik dengan harga yang sangat terjangkau. Kuliner di sekitar Keraton pun tergolong murah nan enak. Selamat berwisata sejarah. Bangsa yang menghargai diri bangsa sendiri adalah yang mengetahui sejarahnya.

Museum Keraton Solo

Museum Keraton Surakarta

Baca Sebelumnya: Makam Kajoran, Makam Bupati Pertama Klaten, Jawa Tengah

Lokasi di Google Map:

3 years ago Artikel , Wisata Budaya

Wisata Sejarah Taman Sriwedari Solo

Wisata sejarah akan memberikan pembelajaran untuk menghargai segala sesuatu karena banyak yang harus dikorbankan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Taman Sriwedari merupakan salah satu tempat wisata yang menyimpan banyak sejarah. Taman ini memiliki nama lain Kebon Rojo yang berdiri pada masa pemerintahan Sultan Paku Buwono X pada tahun 1877. Lokasinya berada di tengah kota Solo tepatnya di Jalan Brigjen Slamet Riyadi 275, Penumping, Laweyan, Solo, Jawa Tengah.

Pembuatan taman tersebut menghabiskan ribuan gulden karena terdapat binatang-binatang hasil buruan yang beraneka ragam serta tanaman yang berwarna-warni. Bentuk tanahnya persegi panjang yang membujur dari barat ke timur. Bagian barat tempo dulu berbentuk taman akan tetapi saat ini berubah menjadi Stadion R. Maladi.  Sedangkan disebelah timur  terdapat Museum Radyapustaka. Taman Sriwedari memiliki bangunan-bangunan yang hampir mirip dengan boulevard di luar negeri. Solo merupakan salah satu kota di Jawa Tengah oleh karena itu bangunannya juga kental dengan joglo. Didepan joglo terdapat patung sepasang penari, untuk saat ini patung tersebut kondisinya memprihatinkan karena tidak terpelihara.

Taman Sriwedari

sumber gambar: IG @nonwids

Taman ini difungsikan sebagai tempat untuk diselenggarakannya tradisi masyarakat setempat seperti hiburan Malam Selikuran. Malam Selikuran adalah malam ke- 21 pada bulan Ramadhan karena pada malam itu dipercaya bahwa ada malam Lailatul Qadr sehingga masyarakat mengadakan tradisi Kirab Seribu Tumpeng. Tradisi tersebut masih berjalan hingga sekarang, pada mulanya malam selikuran diyakini sudah muncul ketika zaman para wali, kemudian berlanjut pada masa Kesultanan Demak, Mataram, Kartasura hingga Kasunanan Surakarta. Taman ini sempat berfungsi sebagai tempat bilyard yang sangat bertolak belakang dengan fungsi yang semestinya dan banyak bangunan yang rusak, akan tetapi saat ini sudah diperbaiki dan mengalami pemugaran.

Lokasi Taman Sriwedari di Peta Google

Saat memasuki dalam Taman Sriwedari Anda akan disuguhi dengan deretan-deretan rumah yang menawarkan souvenir-souvenir khas Solo maupun alat-alat menari hingga tokoh pewayangan. Belakang taman merupakan Gedung Wayang Orang (GWO) yang memiliki fungsi sebagai gedung untuk melakukan pertunjukan wayang orang. Biasanya pertunjukan tersebut menampilkan cerita Ramayana dan Mahabarata dan cerita pewayangan yang lain. Tiket masuknya sangat terjangkau yaitu mulai dari Rp 3.000, 00 – Rp 5.000,00 buka setiap hari mulai pukul 10.00- 22.00 WIB.

Terdapat pula deretan toko buku yang menandakan buku-buku kuno dengan bahasa Jawa, Belanda, inggris. Dengan demikian Anda yang sedang mencari atau memang mengoleksi buku-buku kuno akan lebih mudah mencarinya di Solo. Semoga ulasan tentang Taman Sriwedari bermanfaat bagi Anda yang suka ataupun yang sedang belajar sejarah dengan cara berwisata yang menyenangkan dan tidak akan membuat Anda merasa jenuh. Selain itu, wisata tersebut akan memberikan nuansa yang berbeda karena Anda akan dekat dengan benda atau bangunan yang bernilai sejarah tinggi.

Baca Juga : Wisata Sejuk di Kulonprogo: Kedung Cumpleng

Cave Tubing Kalisuci, Destinasi Wisata Penantang Nyali

Salah satu tempat wisata yang sedang populer di Yogyakarta adalah wisata alam Kalisuci. Wisata ini sangat populer dan hal ini bisa dilihat dari banyaknya hastag di sosial media yang menandai posting beberapa pengunjung. Fakta yang harus kita tahu tentang wisata alam ini ternyata merupakan satu-satunya objek wisata di Indonesia yang dapat dijadikan cave tubing. Fakta menarik lainnya adalah cave tubing seperti ini ternyata hanya ada di tiga tempat di dunia yaitu Mexico, Selandia Baru dan tentunya Yogyakarta.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai cave tubing Kalisuci, kita akan membahas terlebih dahulu apa itu “Cave” atau “Caving”. Jadi wisata ini akan membawa pengunjung menyusuri gua (caving) yang dipadukan dengan kegiatan rafting (arung jeram) atau singkatnya wisata ini adalah rafting namun rafting yang dilakukan di dalam gua.

Lokasi wisata ini terletak di Dusun Jetis, Desa Pacerejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta yang kurang lebih berjarak 60 kilometer dari pusat kota. Jarak tempuh ke lokasi wisata ini bisa memakan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi. Akses ke lokasi wisata ini belum tersedia angkutan umum sehingga pengunjung harus menggunakan kendaraan pribadi. Bagi pengunjung dari luar kota, untuk akses ke lokasi ini lebih baik menyewa kendaraan pribadi.

Kalisuci

Sumber gambar : Akun IG @photogramateur

Jam buka wisata Kalisuci adalah pukul 08.00 WIB – 16.00 WIB namun akan di tutup jika kondisi cuaca tidak mendukung seperti mendung, hujan dan arus aliran sungai deras demi keselamatan. Kegiatan utama yang dapat dilakukan pengunjung di tempat ini adalah Cave tubing. Tantangan tersediri dari kegiatan cave tubing disini adalah jika biasanya pengunjung dapat dengan mudah melakukan caving atau menyusuri sungai karena kondisi terang dengan bantuan sinar matahari maka berbeda dengan sensasi yang ditawarkan oleh wisata ini. Wisata ini memberikan pengalaman caving dengan sensasi mengarungi sungai bawah tanah melalui goa dengan lorong lorong gelap gulita dan hanya menggunakan senter sebagai penerangan utama. Cave tubing ini memiliki panjang jalur sekitar 500 meter dimana pengunjung akan melewati beberapa tempat seperti Goa Suci, Luweng Senglat, Luweng Geleng, dan Goa Mburi Omah yang akan memakan waktu hingga 1,5 jam.

Ketika berlibur ke wisata ini, pengunjung tidak perlu khawatir karena tempat wisata ini sudah memiliki fasilitas pendukung yang tentu dibutuhkan oleh pengunjung seperti tempat parkir, warung makan, toilet dan resto pun juga tersedia. Tiket masuk tempat ini cukup lumayan yaitu Rp 70.000 per orang dengan jumlah minimal 5 orang untuk satu kali cave tubing. Dengan tarif tersebut, pengunjung mendapatkan fasilitas cave tubing seperti ban dalam, pelampung, sepatu caving, pelindung lutut, dan alat penerangan. Selain itu, biaya tersebut sudah termasuk jasa pemanduan dimana pengunjung akan dipandu dan didampingi selama kegiatan cave tubing.

Sobat tidak perlu jauh-jauh ke Mexico atau Selandia Baru untuk merasakan sensasi cave tubing. Jika Sobat tertarik dengan wisata alam dan menyukai tantangan serta pengalaman baru maka jangan lupa mencoba wisata Kalisuci yang memadukan kegiatan caving dan rafting.

Candi Pawon, Satu Lagi Peninggalan dari Dinasti Syailendra di Jawa tengah

Candi Pawon merupakan salah satu candi yang ada di Jawa Tengah, tepatnya di sekitar 2 km ke arah timur laut dari Candi Borobudur dan 1 km arah tenggara dari Candi Mendut. Secara administratif, candi ini berada di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Letaknya yang berdekatan dan adanya kemiripan pahatan antara ketiga candi yang telah disebutkan tersebut mengindikasikan adanya keterkaitan sejarah antara ketiganya. Bahkan ada yang berpendapat jika candi ini merupakan bagian dari Candi Borobudur.

Menurut pakar sejarah, nama Pawon berasal dari kata pawuan yang memiliki arti sebagai tempat menyimpan awu (abu). Hal ini berhubungan dengan cerita yang dikandungnya, sebab sejarah mencatat jika Candi Pawon merupakan tempat untuk menyimpan abu jenazah dari Raja Indra yang merupakan ayah dari Raja Samaratungga. Raja-raja ini masih berasal dari dinasti yang sama, yaitu Dinasti Syailendra. Untuk memberikan penghormatan bagi Raja Indra karena sudah mencapai tataran Bodhisattiva, maka dalam candi tersebut diletakkan sebuah arca Bodhisattiva. Menurut pernyataan yang ada dalam Prasasti Karang Tengah,  arca tersebut bisa bersinar. Hal ini menyebabkan munculnya dugaan jika arca tersebut terbuat dari bahan perunggu.

Candi yang memiliki tinggi sekitar 1,5 meter ini, memiliki denah dasar berbentuk persegi empat dengan tepi yang dibuat berliku membentuk 20 sudut. Dindingnya berisi banyak pahatan dengan motif yang bervariasi, seperti sulur dan juga bunga.

Candi Pawon

Sumber gambar : Akun IG @uda_we

Candi Pawon sendiri memiliki pintu masuk di bagian barat. Saat Anda akan masuk ke dalamnya, Anda akan melewati pintu dengan hiasan Kalamakara yang tak ber-rahang bawah. Beberapa bentuk pahatan juga akan Anda temui saat melintasi tangga menuju selasar. Jika Anda sudah mencapai dalam candi, bekas terletaknya arca akan bisa Anda temui. Walaupun sekarang keadaan ruangan tersebut sudah kosong tanpa arca.

Saat berada di depan candi, Anda akan menemukan relung yang berisi pahatan tentang Kuwera di sebelah utara dan selatan dari pintu masuk. Namun sayang, pahatan yang ada di sebelah selatan cenderung sudah rusak sehingga Anda tak akan bisa melihat wujud aslinya. Akan tetapi untuk pahatan di sebelah utara pintu masuk masih terlihat utuh, hanya bagian kepala yang sedikit  rusak.

Di dinding sebelah utara dan juga selatan candi memiliki relief yang cenderung sama. Relief tersebut menggambarkan sepasang burung yang memiliki kepala manusia yang sedang berdiri mengapit pohon kalpataru. Sebutan untuk sepasang burung tersebut yaitu Kinara dan Kinari. Dalam relief, ada pula pundi-pundi uang di sekitaran pohon tersebut. Sepasang manusia yang sedang terbang ada di langit, serta pahatan sepasang jendela kecil ada di bagian atas dinding.

Di bagian atap Candi Pawon, ada sebuah kubah besar yang menaungi kubah yang ada di bawahnya. Sedangkan atap candi ini berbentuk persegi yang tersusun sedemikian hingga dengan hiasan beberapa kubah kecil.

 

Baca Juga :    Wisata Edukatif Museum Manusia Purba Sangiran

Wisata Sejarah di Benteng Vastenburg

Sebagai negara bekas jajahan Belanda, Indonesia memiliki berbagai macam peninggalan bersejarah yang berasal dari masa penjajahan. Salah satu peninggalan sejarah dari masa tersebut yakni Benteng Vastenburg. Benteng ini terletak di kota Solo tepatnya di Kawasan Gladak, Surakarta, Jawa Tengah. Benteng yang memiliki luas area mencapai 31.533 m2 ini mulai dibangun atas perintah Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff pada tahun 1774. Pembangunan benteng ini kemudian selesai pada tahun 1779. Jika kita melihat pada pintu gerbang benteng ini, kita masih bisa merasakan kentalnya arsitektur Eropa zaman dahulu yang dipadukan dengan konsep tempat aman. Nah, bagi Anda yang tertarik dengan wisata sejarah, mengunjungi benteng ini dapat membuat Anda sangat puas.

Bangunan Benteng Vastenburg ini dulunya merupakan tempat tinggal prajurit-prajurit Belanda yang khusus ditugaskan untuk mengawasi prajurit-prajurit dari Keraton Solo. Benteng ini merupakan saksi sejarah bagi kota Solo pada tahun 1947. Pada tahun tersebut, pihak Belanda sempat bersikukuh untuk kembali mengambil benteng dan menduduki Kota Solo. Dalam perebutan tersebut, terjadi pertempuran yang cukup sengit. Cukup banyak korban yang berjatuhan dalam pertempuran tersebut.

Benteng Vastenburg

Sumber gambar: Akun IG @inungdjuwari

Pada awalnya, benteng ini tidak dibuka untuk umum tanpa alasan yang jelas. Akan tetapi, sejak tahun 1998, Benteng ini kemudian diizinkan untuk dikunjungi oleh masyarakat dan berkembang menjadi lokasi cagar budaya dan situs wisata sejarah yang cukup diminati oleh turis yang berkunjung ke Solo, baik turis lokal maupun asing.

Melihat dari bentuk bangunan, Benteng Vastenburg memiliki peta yang hampir sama dengan benteng-benteng lain yang merupakan peninggalan Belanda. Benteng ini terbagi menjadi beberapa bagian. Bagian-bagian tersebut antara lain garda depan dimana terdapat tembok dari batu-bata yang membentengi bagian dalam. Kemudian, terdapat parit dengan sebuah jembatan yang menghubungkan benteng bagian dalam dan luar. Dalam benteng tersebut, terdapat komplek-komplek bangunan. Masing-masing komplek ini  digunakan untuk kebutuhan yang berbeda. Ada komplek yang dulunya digunakan sebagai tempat tinggal para prajurit Belanda, panglima pasukan hingga ada komplek yang khusus digunakan untuk mengadakan rapat ataupun pesta.

Mengunjungi situs wisata ini tidak hanya cocok bagi Anda yang suka sejarah melainkan juga tepat untuk Anda yang menyukai fotografi. Ada banyak titik menarik yang bisa Anda jadikan lokasi pemotretan atau menjadi objek pemotretan. Kemudian, menurut beberapa sumber benteng ini juga menyimpan cerita misteri. Hal ini karena, konon benteng ini dahulu juga digunakan untuk tempat penyiksaan masyarakat-masyarakat pribumi yang mencoba melawan Belanda. Nah, bagi Anda yang merasa senang dengan hal-hal misterius, tidak ada salahnya Anda merasakan sensasi penuh misteri dengan mengunjungi benteng ini dimalam hari. Benteng Vastenburg ini buka 24 jam sehingga Anda bebas memilih waktu berkunjung sesuai dengan pengalaman seperti apa yang ingin Anda dapatkan.

 

Baca Juga :  Wisata Religi Makam Kyai Maksum Tempuran, Salah Seorang Kyai Besar NU

Mengenal Lebih Dekat Keindahan Candi Sewu

Tidak hanya kota Yogyakarta yang dikenal menyimpan berbagai peninggalan sejarah yang mengagumkan. Di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah pun banyak ditemukan peninggalan budaya yang amat indah. Salah satu contoh peninggalan sejarah di Kabupaten Klaten adalah sebuah candi yang dinamakan Candi Sewu atau Manjusrighra. Candi cantik ini adalah komplek candi terbesar kedua setelah candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Candi ini memiliki 249 anak candi  didalamnya. Candi yang diketahui dibangun pada abad ke-8 masehi pada masa-masa terakhir pemerintahan Rakai Panangkaran(746-784).

Bisa dikatakan bahwa Candi Sewu adalah candi yang cukup megah. Tiap pintu masuk dikawal oleh sepasang arca Dwarapala yang digambarkan sebagai raksasa penjaga dengan tinggi 2,3 meter. Candi utama menyerupai salib atau silang berdiameter 29 meter dan memiliki tinggi bangunan mencapai 30 meter. Masing-masing bangunan didalam candi utama memiliki ruangan tersendiri dan diberi tangga serta dan dimahkotai oleh susunan-susunan stupa yang indah. Candi utama dikelilingi oleh candi-candi kecil dan 240 candi perwara. Objek wisata ini untuk pertama kalinya diteliti oleh HC Cornelius pada tahun 1807 dan dilanjutkan dengan penelitian arkeologi oleh NJ Korm pada tahun 1923. Pernah terjadi pemugaran besar-besaran pada candi yaitu pada bulan April 1983 sampai tahun 1993 dengan dana sebesar 3 milyar rupiah.

Candi Sewu

Sumber gambar: Akun IG @thefarsid3

Sebagai salah satu objek wisata, Candi Sewu banyak dikunjungi oleh para wisatawan dan pelancong dari Negara lain. Kemegahan yang hadir diantara candi-candi ini pasti membuat Anda berdecak kagum dan tidak menyesali pilihan Anda berlibur ke Klaten. Candi megah ini sangat cocok bagi Anda yang masih bingung menentukan destinasi wisata yang akan dikunjungi. Selain bangunannya yang indah, lokasi candi berdekatan dengan candi Prambanan dan candi Plaosan. Jadi, jika Anda sudah berada di lokasi, Anda bisa langsung mengadakan perjalanan ke candi Plaosan yang terletak 1 kilometer setelahnya atau candi Prambanan yang berada tepat di bagian selatan candi ini.

Objek wisata ini tidak memiliki patokan harga untuk setiap pengunjungnya. Anda bisa membayar berapapun dan seikhlasnya saja. Dibuka mulai pukul 09.00 pagi sampai 17.00 sore WIB. Candi dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas seperti kamar mandi, tempat parkir, mushola, dan tempat makan yang menyajikan berbagai macam masakan yang berada pas didepan kompleks candi.

Bagi Anda yang ingin menghabiskan waktu bersama keluarga, teman, dan pasangan, candi ini bisa menjadi pilihan Anda. Selain letaknya yang berdekatan dengan candi-candi besar lainnya, Candi Sewu menyajikan pemandangan alam yang luar biasa indahnya, seperti pepohonan, dan sungai yang terletak disebelah barat candi. Jadi, tunggu apa lagi? Kemas barang-barang Anda dan jelajahi indahnya alam sambil menikmati bukti sejarah mengagumkan yang di bangun di tanah kita Indonesia.

Baca Juga : Menikmati Keindahan Alam di Kebun Teh Nglinggo

Serunya Jalan-jalan ke Candi Gunung Sari Magelang

Magelang memang dikenal sebagai kota yang kaya akan nilai artistiknya. Hal ini terlihat dari banyaknya candi yang bisa ditemukan pada kota ini. Tidak hanya borobudur dan Mendut, Magelang memiliki candi bersejarah lain yang wajib untuk Anda kunjungi yaitu candi gunung sari. Situs candi bersejarah ini adalah salah satu peninggalan masyarakat hindu zaman dulu yang berlokasi di Dusun Gulon, Kecamatan Salam, Magelang. Secara administratif candi tersebut memang terletak di puncak gunungsari.

Dari situs ini, Anda bisa bisa menyaksikan keindahan panorama kota magelang yang menakjubkan. Candi yang berada di bukit Gunung sari ini memang masih jarang dikunjungi oleh para wisatawan baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat terkait dengan keberadaan candi ini. Pepohonan hijau yang mengelilingi candi akan membuat Anda menyadari betapa indahnya alam di Kota Magelang.

Candi Gunung Sari

Sumber gambar : Google Plus @MUTIAH FAIZAH

Candi Gunung Sari adalah peninggalan pada abad ke 6 sampai dengan ke 8. Sehingga bisa diartikan bahwa peninggalan zaman Hindu ini lebih tua dibandingkan dengan Candi Prambanan maupun Candi Borobudur. Banyak arkeolog yang mengungkapkan bahwa candi yang ada di Gunungsari ini diduga sebagai situs candi paling tua di tanah Jawa. Jadi bagi Anda yang senang berwisata sejarah, sangat disayangkan apabila tidak mampir mengunjungi situs ini. Candi tertua di Jawa ini ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1996. Sejak tahun 1980-an candi ini sudah menjadi salah satu situs bersejarah yang dikenal oleh warga setempat. Asal muasal candi ini belum diketahui secara pasti oleh para arkeolog. Hanya saja terlihat sebagai peninggalan candi Hindu karena terdapat relief “Yoni” yang masih utuh.

Situs peninggalan bersejarah di Kota Magelang ini adalah bukti kemegahan peradaban di zaman dulu yang patut untuk dilindungi. Sayangnya candi ini kalah populer di Candi Prambanan dan Candi Borobudur yang banyak mendapatkan perhatian dari pemerintah dan masyarakat. Penemuan candi ini tidak disengaja. Ketika ada stasiun televisi yang tengah mencari lokasi pemancar untuk area Gunung sari. Pada awal penggalian yang ditemukan pertama kali adalah batuan andesit.  Dari sanalah pihak stasiun televisi tersebut menghentikan penggalian dan melaporkannya pada BP3 Jawa Tengah melakukan penelitian lebih lanjut. Dari titik penemuan itulah ditemukan Candi Gunung Sari.

Untuk bisa sampai ke candi bersejarah di Gunungsari ini, Anda harus menaiki bukit dengan berjalan kaki sekitar 20 menit.  Dikelilingi dengan sawah pedesaan yang terhampar luas menciptakan panorama alam yang menawan. Meskipun yang tertinggal dari Candi Gunung Sari hanya bongkahan sisa peninggalan, situs ini tetap direkomendasikan untuk Anda yang ingin berwisata alam sambil mendalami peninggalan bersejarah. Apalagi, panorama sekitarnya juga sangat bagus untuk dijadikan sebagai tempat hunting foto.

Lokasi Candi Gunung Sari di Google Map :

Copyrights 2014 Rental Mobil Jogja. All rights reserved.

^